Sabtu, 22 Desember 2012

Pernyataan Khidmat dari Shi Liandian!


Akhir-akhir ini, sekawanan penjahat pencipta rumor di internet mengemukakan beragam isi yang tidak masuk akal dan sangat aneh tentang diri saya, Shi Liandian, di sini saya mengeluarkan pernyataan khidmat sebagai peringatan!

Pencipta rumor sengaja mengarang isi yang tidak faktual dengan menggunakan cara yang sangat hina dan kata-kata yang sangat kasar untuk menyakiti dan menfitnah perintis Zhenfo Zong Y.A. Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu; dengan kata-kata yang sangat menjijikkan, menghina dan menfitnah diri saya, serta memaki banyak bhiksu/ni  dengan sewenang-wenang, tindakan sombong yang hampir mendekati kondisi tidak waras seperti ini, sungguh sangat menyayat hati!

Di sini, saya, Shi Liandian mengeluarkan pernyataan khidmat sebagai peringatan bahwa isi rumor dan fitnah jahat di internet dari Anda semua sudah sangat serius bertentangan dengan hukum, mohon segera hapus! Saya telah mengumpulkan semua bukti untuk menempuh jalur hukum, tanpa ampun!
Terutama mengimbau seluruh umat dan simpatisan untuk tidak percaya, tidak menyebarluaskan, tidak mengutip, tidak menjiplak, gunakanlah kebijaksanaan yang jernih untuk menghancurkan rintangan Mara!

Demikian pernyataan ini saya buat.

Hormat saya,

Shi Liandian
21 Desember 2012

Jumat, 21 Desember 2012

Saya dan Sosok SHC Yang Saya Kenal (1)

Penulis: Lianhua Yanhua (蓮花彥樺)

Terlebih dahulu saya perkenalkan diri sedikit, saya bersarana kepada
Dharmaraja Lian Sheng Sheng-yen Lu sejak tanggal 13 Maret 1993, nama
dharma Lianhua Yanhua.

Saya menulis artikel ini, jika bukan karena terdesak oleh situasi saya
tidak akan mengungkapkan masa lalu saya.

Dibawah ini saya ceritakan sedikit tentang pengalaman bersarana saya:

Desember 1992, Mahaguru Lu hadir di Singapura, memimpin upacara akbar
santika, paustika dan penyeberangan bardo IMM, saat itu saya mempunyai
nidana untuk ikut serta. Saya membawa keluarga pergi bersama-sama.
Setelah memahami dan setelah pendaftaran ikut upacara dharma, saya
mendaftar untuk memohon kesejahteraan bagi seluruh keluarga. Pada saat
yang sama juga mendaftarkan penyeberangan bardo bagi mendiang papa dan
para leluhur. Selain itu saya, mama dan anak  gadis saya memohon 'Plat
Buddha Mahaguru' untuk dikenakan di leher.

Yang tidak terduga adalah, begitu upacara dharma dimulai, duduk dalam
lapangan upacara, airmataku langsung mengalir tanpa kendali, mengalir
tanpa bisa ditahan, tidak bisa berhenti; setelah selesai upacara
dharma dan keluar dari gedung upacara, saya langsung muntah kosong,
sungguh saya tidak paham apa yang telah terjadi. Malam harinya saat
berbaring di ranjang, begitu memejamkan mata, wujud Mahaguru Lu
langsung muncul dengan jelas di atas angkasa di depan saya, Cahaya
manggala yang pekat memenuhi angkasa, aroma wangi menyembur tiada
henti. Sebentar kemudian, setelah pelan-pelan tertidur, mendiang papa
yang paling menyayangiku yang saya rindukan siang malam tiba-tiba
muncul dalam mimpi saya, ia membawa keramahan yang memukau orang yang
belum pernah ada semasa hidupnya, laksana angin kedamaian dengan
lembut membungkusku, dengan kasih yang mendalam ia memandangku, ucapan
yang lemah lembut dan penuh kasih sayang pertama kalinya keluar dari
mulutnya, airmataku tumpah seperti air sungai yang meluap. Ia
berterima kasih saya telah mendaftarkan nama untuk penyeberangan
baginya, wajahnya menyiratkan rasa enggan untuk berpisah. Datang
bersamanya adalah kakek luar dan nenek luar saya. Kami berkumpul
bersama dalam mimpi. Setelah tertangis tangis, saya pun terbangun.
Saat itu batinku sangat lama menggemakan rasa terima kasih mendalam
pada Mahaguru Lu, terima kasih atas penyeberangan yang hebat dari
Mahaguru Lu, terima kasih kepada Mahaguru Lu yang membuatku bisa
bertemu dengan kerabat baik dalam dunia Yang maupun Yin. Kehebatan
seperti ini, tidak banyak orang di dunia ini yang mampu melakukannya,
hanya seorang Maha Siddha sesungguhnya yang mampu melakukan itu!
Terima kasih sekali lagi terima kasih!

Kemudian, Mahaguru Lu datang ke Malaysia melaksanakan upacara dharma,
kami satu keluarga tiga orang juga hadir di Penang Malaysia, tinggal
di hotel. Kamar kami di lantai dua. Saat naik ke lantai dua, mendekati
pintu kamar, tiba-tiba mulutku menjapa Mantra Hati Mahaguru yang belum
pernah saya pelajari saat itu 'Om Guru Liansheng Siddhi Hum' (saat itu
saya belum bersarana), pada saat yang sama saya merasakan suatu
perasaan aneh di depan saya. Begitu pintu dibuka, angin bertiup, aroma
aneh menerpa hidung. Anak gadis saya (saat itu berumur 10 tahun)
buru-buru pergi mandi, masuk ke toilet, melepaskan Plat Buddha
Mahaguru, diletakkan di samping. Samar-samar ia merasa di belakangnya
ada seseorang sedang menatapnya, lalu ia tanpa sadar memakai kembali
Plat Buddha nya. Saat sedang mandi, ia menengok ke tepi bak mandi,
tiba-tiba ada sesosok bayangan wanita tanpa busana berambut panjang,
sekilas kemudian menghilang. Anak saya tidak begitu terkejut, sebentar
kemudian ia telah lupa. Setelah kembali ke Singapura, mengingat
kembali kejadian ini, saya beritahukan mama saya, setelah ia
mendengarnya segera ia mencari paranormal. Paranormal memberitahunya,
awalnya anak gadisku takut, tapi kemudian Plat Buddha yang ada di
tubuhnya mengeluarkan Cahaya yang membungkus tubuhnya, secara alami
hatinya menjadi tenang. Terjadinya peristiwa ini, membuat saya sekali
lagi sangat berterima kasih pada Mahaguru Lu. Langsung saja saya
memutuskan untuk bersarana pada Dharmaraja Lian Sheng Sheng-yen Lu
(Guru Spiritual yang pertama kali sepanjang hidup saya sampai
sekarang). Anak gadisku juga ingin bersarana. Saya tanya mengapa:
'Mami, saya percaya Mahaguru Lu bisa melindungi saya.' (anak saya
sejak kecil mudah kesambet. Setelah mengajarkannya Dharma Pelindung
Diri, tubuhnya sehat sejahtera sejak saat itu).

Setelah seluruh keluarga bersarana dengan Mahaguru Lu, semua nama
dharma adalah Lianhua. Kebetulan sekali, namaku juga adalah Lianhua,
setelah ganti nama terpakai lagi, sungguh menarik. Akan disinggung
lagi dalam artikel ini selanjutnya.

Setelah bersarana, kontak batin nan unggul terus terjadi susul menyusul.

Mengenai SHC

Saat pendaftaran di Seattle Lei Tsang Temple, saya telah mengenal SHC,
saya telah menyaksikan banyak sekali keganjilannya. Sejak dia secara
sengaja masuk TV untuk memfitnah Mulaguru Zhen Fo Zong Dharmaraja
Lian Sheng Sheng-yen Lu, dan setelah ia menghilang, saya tidak pernah
lagi mengikuti kabar beritanya. Sampai saat ini, setelah seorang
saudara sedharma mengirimkan email wawancara Zheng Yao Zhong dengannya
pada saya, saya baru mengerti, ternyata berita tentang dia di internet
masih sangat banyak, dan ternyata dia sudah lama membuat sebuah
website, khusus mengumpulkan dan menyebarkan artikel fitnah terhadap
Mahaguru Lu. Saya coba perhatikan dengan teliti, dan menemukan banyak
sekali foto saudara sedharma yang saya kenal dipostkan di website itu,
dilihat sekali lagi, ya Tuhan, ternyata fotoku juga ada di situ.
Artikel penuh dengan distorsi dan pemutarbalikan fakta. Dan
orang-orang yang menulis artikel itu, tidak memahami siapa SHC itu,
juga bukan pihak yang terlibat langsung, yang hanya mendengar cerita
sepihak, atau hanya ingin mendengar cerita sepihak, sudah mengira
benar apa yang salah, dengan memakai topeng seorang gentleman dengan
kata-kata yang sangat meyakinkan, ditambah dengan dugaan-dugaan tak
berdasar, serangan serampangan terhadap Mahaguru Lu yang memang pada
dasarnya tidak mereka kenal dan telah terbentuk prasangka buruk
sebelumnya sebagai Guru ajaran sesat dalam diri mereka. Karena di
dalam artikel itu telah menyinggung saya, sebagai murid dari Mahaguru
Lu, juga sebagai pihak yang terlibat langsung, saya harus menceritakan
secara apa adanya semua yang terlihat dengan mata kepala sendiri dan
alami sendiri. Karena sebenarnya tidak ada ruang bagi SHC untuk secara
sengaja mendistorsi dan memutarbalikkan fakta. Terlebih lagi, tanpa
seizin saya, ia telah memaparkan foto saya di internet, ini melanggar
hak privasi orang. Setiap kata-kata dari SHC ingin menggunakan senjata
hukum untuk menuntut, tapi dia sendiri telah melanggar hukum. Bukankah
ini dalam rangka mencapai tujuan pribadi untuk memfitnah Mahaguru
Lu???

Perkenalan saya dengan SHC pada tahun 1997. Setelah saya bersarana,
setiap kali upacara dharma besar musim semi dan musim gugur di
Seattle, saya selalu pergi membantu sebagai tenaga sukarela. Waktu itu
saya bertemu dengan banyak sekali saudara sedharma yang datang dari
berbagai negara, para tenaga sukarela yang datang dari jauh itu
semuanya menginap di asrama vihara. Saat itu karena saya menginap
sekamar dengan SHC beserta beberapa saudara sedharma lainnya, kita
sering mengobrol sehingga kita saling kenal. SHC mengatakan dia
mempunyai penyakit sakit kepala, dan datang ke situ memohon Mahaguru
Lu mengadhistananya.SHC yang saya kenal ini sangat licik. Orang ini
berbeda luar dari dalamnya, samasekali tidak sepolos seperti yang ia
tuliskan. Yang dituliskan di bawah ini adalah kegiatan bersama yang
sebenarnya saya dengannya.

Setelah saya dan SHC bergaul untuk suatu jangka waktu, ia merasa kami
sangat akrab dengan Mahaguru Lu, kita berbicara seperti satu keluarga
saja, ia juga tahu saya ingin mengundang Mahaguru Lu dan Gurudhara
untuk makan bersama. Ia berkata ia juga ingin seperti itu. Saya tanya
ia mau apa? Ia berkata ingin seperti kami (mengobrol dengan Mahaguru
Lu seperti satu keluarga). Setelah itu, ia mulai dengan sengaja
mendekatiku.

Suatu hari, ia berkata padaku: 'Terkadang dalam sesi konsultasi dengan
Mahaguru Lu, saya tidak tahu mau berkata apa karena tegang, banyak
sekali permasalahan yang ingin ditanyakan tidak terungkapkan.' Kasihan
mendengar apa yang telah ia katakan, saya bermaksud membantunya, lalu
menghiburnya dengan berkata: 'Kalau begitu, lain kali kalau anda ada
masalah yang mau dikonsultasikan, saya akan menemanimu, maka anda
tidak akan tegang lagi.'

Hari kedua, saya melihatnya menulis sesuatu di tempat tidur, lalu
bertanya: 'Apa anda sedang menulis tentang hal yang ingin
dikonsultasikan?' Ia memberikan kertas itu kepadaku dan berkata bahwa
tulisan ini untuk Mahaguru Lu, ia ingin mengungkapkan isi hatinya pada
Mahaguru Lu. Setelah saya membaca isi kertas itu, saya terkejut sekali
dalam hati, karena isi tulisan itu penuh dengan kata-kata cinta,
ternyata ia sedang menulis surat cinta untuk Mahaguru Lu! Saya
cepat-cepat berkata padanya: 'Kamu tidak boleh seperti ini, ini bisa
mencelakai Mahaguru Lu, juga tidak baik bagi dirimu sendiri.' Matanya
langsung memancarkan ekspresi yang sangat tidak senang dan penuh
kebencian. Kemudian secara obsesif sambil memandangi surat ia berkata:
'Pokoknya saya mau tulis.' Saya melihatnya, saya tidak berdaya.
Kemudian, surat cinta ini masih terus ia tulis.

Selang dua hari kemudian, ia bilang mau pergi berkonsultasi, ia mau
saya menemaninya. Tetapi, sesampainya di Miyuan ia langsung berlutut
di pintu ruang konsultasi, dengan ekspresi mengibakan ia berkata
Yanhua datang mau berkonsultasi. Sesaat saya tidak siap dan menjadi
bingung dengan apa yang ia katakan, menghadapi Mahaguru Lu entah apa
yang harus dikatakan? Dengan penuh welas asih Mahaguru berkata: 'Tidak
masalah, ada masalah apa yang mau dikonsultasikan?' Saya hanya bisa
berkata: 'Tidak ada apa-apa.' Kemudian, kita pergi tanpa berkata-kata
lagi. Sungguh saya tidak habis pikir, apa tujuan SHC melakukan itu?

Saat itu, menjelang persiapan makan malam, saya pergi ke dapur untuk
membantu. Belum berapa menit kemudian, SHC juga datang ke dapur untuk
membantu. Ia diam saja, saya sudah tidak tahan lalu bertanya:
'Sebenarnya apa yang telah terjadi tadi?' Tiba-tiba ia berteriak keras
sekali, sampai biksu yang di dapur itu juga terkejut. Biksu tidak tahu
apa yang telah terjadi, dan mengira saya telah mengganggunya. Saya
tidak bisa berkata apa-apa dan langsung kembali ke asrama. Berbaring
di ranjang, tanpa sadar airmata telah mengalir. Pada saat itu ia juga
masuk, melihatku, ia hanya berkata pelan: 'Maafkan saya atas apa yang
telah saya lakukan padamu tadi.' Saya bertanya: 'Mengapa harus
begitu?' Ia tidak menjawab, dan langsung mengganti bahan pembicaraan.

Ia dalam kesehariannya juga sangat suka mencari perhatian. Saya ingat
suatu kali, ia berkata setiap kali pulang ke Malaysia ia selalu khusus
pergi belajar menari, untuk dipersembahkan bagi Mahaguru. Setiap kali
karena tidak mendapatkan giliran mempersembahkan tarian bagi Mahaguru,
ia langsung menangis. Para saudari sedharma yang satu rombongan dengan
dia juga menggelengkan kepala dan menarik napas panjang.

Bicara sejujurnya, saya datang ke Seattle Lei Tsang Temple adalah
untuk dapat selalu mendengarkan ceramah Dharma dari Mahaguru Dharmaraja Lian Sheng, dan menganggap setiap saudara sedharma sebagai
anggota keluarga. Saya dengan hati yang paling hormat dan tulus
menempatkan setiap ceramah Dharma dari Mahaguru Lu ke dalam hatiku
yang bagaikan secarik kertas putih, melatih diri selangkah demi
selangkah sepenuhnya berdasarkan pengajaran dari Mahaguru Lu, belum
pernah meragukan Dharma Tantra yang diajarkan oleh Mahaguru Lu. Namun
karena telah terjadi peristiwa ini, membuatku sulit sekali untuk
memahami. Kita bersarana pada Mahaguru adalah agar dapat melatih diri
dengan sebaik-baiknya, memahami hukum karma dan mengubah nasib,
menyingkirkan sifat kebiasaan kita, berubah dari jahat menjadi baik,
dari kotor menjadi bersih, menyalakan pelita dalam hati. Namun saya
tidak mengerti SHC mengapa anda mau melakukan muslihat ini? Sebenarnya
di mana saya telah menyakiti kamu? Saya selalu menerima kesalahanmu.
Anda adalah orang yang pernah menerima Bodhisatva Sila, bagaimana bisa
anda melakukan perbuatan tercela ini? Hari ini, setelah saya membaca
tulisanmu yang menyimpang untuk mencelakai Mahaguru Dharmaraja Lian
Sheng, anda sedang menggunakan pisau beracun untuk menusuk Mahaguru
Lu, juga telah menggunakan pisau beracun untuk menusuk hati para murid
Zhen Fo Zong, anda mengarang persoalan untuk melampiaskan kemarahan
pribadi dan entah telah membunuh berapa banyak jiwa kebijaksanaan dari
makhluk hidup, saya sungguh merasa kasihan pada anda.

Biarkan saya meluruskan satu per satu pemutarbalikan fakta dalam
artikel anda, SHC!

(bersambung)

Rabu, 19 Desember 2012

Mengungkapkan yang Tak Terungkapkan ~ Memakai Kacamata Hukum ~ Oleh: Pengacara Jennifer Chow (2 September 2008)



"Belajar Buddha menyadarkan insan, menyeberangkan insan bukanlah keharuman semu, tidak mengabaikan satu insan pun, inilah spiritual sejati." Sajak ini mengungkapkan bahwa Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu tidak membeda-bedakan insan, juga tidak pandang bulu, melainkan menyeberangkan insan secara setara. Sehingga, di antara umat Zhenfo yang bersarana pada Dharmaraja tidak hanya dari orang-orang berpendidikan tinggi hingga rendah, kaum papa hingga kaum berada, hina hingga terhormat, bahkan narapidana pun ada, penderita sakit jiwa pun ada. Namun, memegang teguh pendirian tidak membeda-bedakan dalam menyelamatkan insan, sehingga di antara insan yang baik dan buruk bercampur-baur, kadang-kadang akan ada 1 atau 2 orang berkhianat dan menciptakan rumor adalah sesuatu yang tak terelakkan.

Dalam menghadapi serangan berupa rumor dan fitnah, Dharmaraja Liansheng tidak pernah sekalipun berinisiatif mengklarifikasi, karena Beliau tidak hanya "mengetahui masalah bagaikan mimpi sehingga tidak mengharapkan apa-apa", Beliau lebih memahami lagi, bahwa begitu mengklarifikasi dan menunjukkan bukti, yang menjadi korban adalah umat yang menciptakan rumor dan fitnah tersebut. Itu sebabnya, dalam menghadapi rumor maupun fitnah, Beliau atas dasar melindungi nama baik umat, Beliau bersikap "tak terungkapkan", tanpa keluh kesah, tidak tergoyahkan dan tidak terpengaruh sama sekali. Bahkan pernah berujar, "Baik yang memuji saya, atau menfitnah saya, semua berjodoh dengan saya; yang paling saya takutkan adalah orang yang tidak kenal saya, tidak berjodoh dengan saya. Karena tidak berjodoh, maka tidak dapat diseberangkan." Nyatalah bahwa Beliau tidak peduli dengan sikap insan terhadap Beliau, Beliau hanya peduli apakah Beliau dapat memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya untuk menyeberangkan setiap insan yang hanya sekadar lewat saja.

Karena pada tanggal 3 Mei tahun ini (2008) Dharmaraja Liansheng kembali ke Taiwan untuk membabarkan Dharma, pada tanggal yang sama bulan Juli, Beliau kembali difitnah oleh media. Walaupun keyakinan sebagian besar umat Zhenfo terhadap Dharmaraja Liansheng sangat teguh, niat melindungi Guru sangat tulus, sehingga semua umat marah, bahkan mengritik media habis-habisan. Namun, ada sebagian kecil umat yang tidak memiliki akal sehat untuk menilai, serta kalangan luar (termasuk wartawan media) tidak memahami Dharmaraja Liansheng yang dikarenakan narasumber laporan tersebut memiliki pandangan miring, dan selanjutnya menyebarluaskan isu.

Penulis telah 20 tahun lebih bergelut di bidang hukum, di saat bersamaan juga merupakan umat yang bersarana pada Zhenfo Zong. Setelah terjadi kasus fitnah ini, saya selalu merenungkan jika saya bukan umat Zhenfo Zong, terhadap orang yang dituduh yang tetap mempertahankan sikap "tak terungkapkan", lantas, bagaimana saya memutuskan kejadian yang sebenarnya dan benar salahnya suatu perkara. Untuk itu, pada tahun ini, saya mengunjungi Ling Shen Ching Tze Temple sebanyak dua kali, setelah memahami dengan jelas apa yang dilaporkan media, antara lain: apa, siapa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana kejadian pada tahun 1997 tersebut; demi artikel "Mengungkapkan yang Tak Terungkapkan" ini, saya memutuskan untuk menanggalkan jaket status umat bersarana, menyingkirkan kata-kata subjektif yang perseptif dan sentimentil, memakai kacamata hukum saya, berangkat dari sudut pandang objektif, dan di antara terungkapkan dan tak terungkapkan, lihatlah bagaimana saya mengungkapkannya.

I. Mari kita bahas dulu prinsip memutuskan perkara berdasarkan hukum

Dalam kasus hukum pada umumnya, di bawah pernyataan tegas dari penuduh, sedangkan orang yang dituduh tetap diam, hasilnya bukan "diam-diam menyetujui" seperti asumsi masyarakat pada umumnya. Melainkan mesti lebih dulu memeriksa bukti, data, dan tingkat kredibilitas dari fakta yang dikemukakan oleh penuduh. Jika tingkat kredibilitas tinggi, orang yang dituduh mesti mengajukan bukti yang bertentangan untuk membalikkan fakta dari penuduh; sebaliknya, jika tingkat kredibilitas nol atau rendah, sementara orang yang dituduh tetap diam, fakta tuduhan tetap tidak bisa berdiri. Oleh karena itu, berdasarkan prinsip-prinsip tersebut di atas, selanjutnya bisa diputuskan berapa tingkat kredibilitas dari kasus SHC yang dilaporkan oleh media mingguan.

II. "Zhenfo Miyuan", sebenarnya bukan sesuatu yang "rahasia"

Asal-usul nama "Zhenfo Miyuan":

Nama "Zhenfo Miyuan", berasal dari "Sadhana Tantra Zhenfo". Itu sebabnya, "Mi" bukan berarti misterius atau rahasia, melainkan diambil dari nama "Sadhana Tantra". Ibarat tempat ibadah untuk membabarkan Sadhana Tantra dalam Agama Buddha Tantra Tibet, Gelugpa yang dijadikan Akademi Tantrayana dan Universitas untuk belajar Tantra; juga disebut Gyoto (Shang Miyuan) dan Gyumey (Xia Miyuan). (Sumber data: www.wikipedia.org) Oleh karena itu, jangan karena kata "Miyuan", lantas berkhayal yang tidak-tidak.

Bagian interior "Zhenfo Miyuan" tidak bersifat rahasia:

Dulu "Zhenfo Miyuan" pernah dibuka untuk dikunjungi umum, serta lewat pengambilan video di bagian interior oleh Rainbow Film Inc., sehingga penataan bagian interior sedari awal telah dikenal baik oleh sebagian besar umat. Meski di dalam majalah SHC memahami bagian interior Miyuan, itu juga bukan dasar identifikasi bahwa ia memiliki hubungan khusus. Namun, mengenai pengakuan SHC bahwa di dalam kantor Dharmaraja Liansheng tersusun ranjang dan di samping ranjang terdapat patung wanita telanjang, dengan bukti isi video yang diambil Rainbow Film Inc.; serta setelah menanyai Bhiksuni Biyan yang telah belasan tahun bertanggungjawab membenahi kantor Dharmaraja Liansheng, diketahuilah bahwa penggambaran pada bagian ini adalah fiktif belaka.

Fungsi "Zhenfo Miyuan":

Walau "Zhenfo Miyuan" dulu pernah menjadi tempat tinggal Dharmaraja Liansheng, namun, 22 tahun yang lalu, Dharmaraja sekeluarga telah pindah dan tinggal di luar, serta semua situs dijadikan kantor True Buddha Foundation. Tempat tersebut pada hari biasa pukul 9 pagi hingga pukul 6 sore ada Acarya, Lama, relawan keluar masuk; fungsi utamanya sebagai pusat balas surat, hari sabtu dibuka untuk konsultasi. Sejak Oktober 1994, Acarya Lianning bertanggungjawab mengurus semua tugas administrasi internal Miyuan, serta memegang kunci Miyuan agar bisa keluar masuk kapan pun.

Berdasarkan tata letak "Zhenfo Miyuan", ada beberapa ketidakmungkinan SHC keluar masuk sendiri:

1. Tidak mungkin dari segi lingkungan luar:

Sisi naga dan sisi macan dari Ling Shen Ching Tze Temple (yaitu sisi kanan dan sisi kiri dari penempatan bangunan) masing-masing terdapat empat unit rumah yang berdiri sendiri dengan model terbuka tanpa dikelilingi oleh tembok. Sejauh mata memandang dari luar aula utama Ling Shen Ching Tze Temple, aktivitas keluar masuk sang penghuni rumah dari kedelapan rumah tersebut tampak jelas sekali. Sedangkan Zhenfo Miyuan berada di deretan rumah kedua di sisi naga, deretan ketiga dengan Miyuan adalah asrama acarya, lama, dan umat wanita yang mendaftar menginap; sedangkan deretan keempat sisi macan dari Ling Shen Ching Tze Temple adalah perpustakaan, ruang makan yang sekarang, yaitu asrama acarya, lama, dan umat pria yang mendaftar menginap; sisanya adalah rumah tinggal biasa, waktu itu masih bukan milik Ling Shen Ching Tze Temple. Delapan unit rumah terbagi menjadi 2 sisi, masing-masing 4 unit rumah yang semuanya saling berhadapan, digabung dengan Ling Shen Ching Tze Temple, menjadi sebuah bentuk "U". Setiap hari dari dini hari sudah ada Acarya, Lama, dan para umat lalu lalang di jalan yang berbentuk U tersebut. Sehingga aktivitas keluar masuk bersifat terbuka, sedangkan Miyuan adalah jalan yang harus dilalui untuk masuk ke dalam Ling Shen Ching Tze Temple. SHC mengutarakan bahwa ia keluar masuk Miyuan sendirian, diamati dari lingkungan luar adalah sesuatu yang tidak mungkin.

2. Tidak mungkin dari segi waktu:

Menurut aturan vihara bahwa, Acarya, Lama, dan umat yang mendaftar menginap, semua mesti beraktivitas sesuai jadwal rutinitas vihara; setiap hari pukul 7 pagi, semuanya berkumpul di Ling Shen Ching Tze Temple, 7:30 mulai kebaktian, sekitar sejam kemudian, bersantap pagi bersama. Jika umat yang menginap tidak dapat ikut, mesti minta cuti pada Lama yang bertanggungjawab untuk pendaftaran penginapan, serta memberitahukan alasan dan tempat tujuan, untuk memudahkan pengaturan. Setelah menanyakan Lama Lianlian yang saat itu bertanggungjawab untuk pendaftaran penginapan, SHC bukan umat yang menginap jangka panjang selama 2 tahun di Ling Shen Ching Tze Temple, ia hanya mendaftar menginap berturut-turut sesekali saja, ini yang pertama. Bahkan, selama SHC menginap, Lama masih ingat, SHC tidak pernah minta cuti pada kebaktian pagi, juga tidak pernah beraktivitas sendiri, ini yang kedua. Terlebih karena Lama Lianlian saat itu bertanggungjawab untuk menjaga di pintu masuk Miyuan, juga membuktikan bahwa Dharmaraja Liansheng saat itu tidak tinggal di Miyuan, waktu "masuk kantor" Dharmaraja biasanya sekitar pukul 8:50 hingga pukul 9:15 pagi. Selama pukul 7 pagi lebih, Dharmaraja tidak mungkin muncul di Miyuan, ini yang ketiga. Saat Dharmaraja menyetir masuk ke jalan berbentuk U di depan Ling Shen Ching Tze Temple seperti biasanya, baik Lama, Acarya, maupun umat akan menghampiri dan bernamaskara menyambut Beliau, tidak mungkin hanya bersama seorang umat saja tanpa diketahui orang lain, ini yang keempat. Apalagi karena Miyuan ada penjagaan di pintu masuk, SHC tidak mempunyai kunci, bagaimana masuk sendirian ke dalam Miyuan, ini yang kelima. Dari penggambaran di atas, bisa diketahui bahwa SHC tidak mungkin seperti yang digambarkan di atas bahwa ia masuk sendiri ke dalam Miyuan pada pukul 7:15 pagi, inilah ketidakmungkinan dari segi waktu.

3. Tidak mungkin dari segi prosedur:

Menurut penyampaian Acarya Lianning selaku penanggungjawab untuk tugas administrasi Miyuan, bahwa Dharmaraja Liansheng menerima konsultasi umat, selama ini selalu mendaftar padanya untuk pengaturan waktu; bahkan saat berkonsultasi, selain Dharmaraja, pasti ada pendamping di tempat. Pada tahun 1997, Acarya Lianning yang bertanggungjawab untuk mendampingi, jika Beliau tidak dapat menemani, maka ada Acarya Changzhi yang menggantikannya. Dari segi teori, menurut prosedur, seorang umat tidak mungkin ada kesempatan berduaan dengan Dharmaraja Liansheng, maka, bagaimana pula SHC dapat berduaan dengan Dharmaraja Liansheng? Dari sini bisa diketahui bahwa penyampaian SHC merupakan sesuatu yang tidak mungkin.

Menggabungkan syarat-syarat objektif di atas, kebenaran atas pengakuan SHC keluar masuk Miyuan sendirian pagi-pagi buta, tanpa perlu diperdebatkan pun sudah jelas dengan sendirinya.

III. Dharmaraja mengumumkan menyepi dan bertapa, tidak ada hubungan sebab akibat dengan proses hukum SHC, keduanya adalah dua hal yang berbeda.

Dharmaraja Liansheng sedari awal pada awal tahun 2000 sudah memasuki kondisi setengah menyepi, dan tidak menetap di Ling Shen Ching Tze Temple lagi. Setelah mengumumkan pertapaan pada upacara agung Kalacakra di Hong Kong bulan Agustus 2000, Beliau langsung menyepi. Namun, Ling Shen Ching Tze Temple baru mendapatkan pemberitahuan adanya gugatan dari SHC pada akhir tahun 2000; dari segi waktu, keduanya tidak ada hubungan sebab akibat.

Pihak yang digugat dalam proses hukum SHC ada dua, hasilnya juga bukan "tak berkesudahan".

Tahun 2000, SHC tidak hanya mengajukan gugatan terhadap Dharmaraja Liansheng, juga mengajukan gugatan dan meminta ganti rugi terhadap Ling Shen Ching Tze Temple dengan alasan penyediaan akomodasi dan konsumsi selama menginap yang kurang memadai. Mengenai bagian gugatan terhadap Ling Shen Ching Tze Temple, ketiga sidang pengadilan gugatan berlangsung hampir 4 tahun, ketiga permohonan sidang pengadilan gugatan SHC ditolak semua, dipastikan kalah perkara. Mengenai bagian gugatan terhadap Dharmaraja Liansheng, karena gugatan tidak sesuai dengan prosedur hukum pengadilan Amerika Serikat; sehingga bagian ini sejak awal dibagi menjadi dua kasus yang berbeda dengan bagian gugatan terhadap Ling Shen Ching Tze Temple. Itu sebabnya, setelah bagian ini tertangguh bertahun-tahun tidak dapat dijalankan, lewat pencabutan gugatan atas permintaan pengacara SHC sendiri, kedua kasus tersebut telah ditutup pada tahun 2004. Selain bisa diketahui lewat surat yang diajukan pengacara Amerika Serikat, Gregory S. Worden, mengenai putusan pengadilan bahwa SHC kalah perkara, juga bisa dibuktikan di situs internet Find Law for Legal Professionals; oleh sebab itu, hasilnya tidak seperti yang disampaikan oleh SHC, "tak berkesudahan".

Uang damai 10,000 USD diajukan oleh pihak vihara, tidak ada kaitannya dengan kasus Dharmaraja Liansheng.

Karena pengacara Amerika Serikat, Robert B.Gould, mengusulkan pihak vihara mencoba jalan damai dengan SHC selama proses hukum berlangsung, sehingga mengajukan uang damai sebesar 10,000 USD untuk membayar biaya pengacara dan pengeluaran lainnya. Pada saat proses hukum sedang berlangsung, komisaris pihak vihara Master Teck Teng menghormati usulan pengacara untuk menyerahkan kasus ini kepada pengacara. Namun, setelah itu, pengacara SHC tidak merespon, sehingga upaya damai tidak terjadi. Dan, akhirnya pihak vihara juga mengalami 3 kali kemenangan dalam 3 kali sidang pengadilan, hasil putusan pengadilan sama sekali tidak terpengaruh oleh upaya damai yang pernah diajukan pihak vihara. Selain itu, menurut penuturan Master Teck Teng, selama proses hukum, saat itu satu kasus dipecah menjadi dua, semua ditangani oleh pengacara yang diserahkan wewenang penuh oleh pihak vihara sendiri, Dharmaraja Liansheng karena bertapa sehingga tidak bisa dihubungi, perihal pihak vihara pernah mengajukan damai, Beliau sama sekali tidak tahu-menahu. Setelah kejadian itu, karena pihak vihara pernah mengajukan damai, hal ini diselewengkan oleh SHC sebagai alat menyesatkan publik. Oleh karena itu, setelah diketahui oleh pengacara Robert B. Gould yang semula mengusulkan damai, Beliau pun menyatakan maaf dan penyesalan kepada pihak vihara. Namun, benar-salah, hitam-putih tidak boleh diputarbalikkan, jika berniat memeriksa dan membuktikan isi tuduhan, maka kebenaran akan terkuak.

Penulis dengan pengetahuan profesional sebagai seorang tokoh penegak hukum dan pengalaman menangani kasus selama bertahun-tahun, berdasarkan isi laporan perkara, datang langsung ke Ling Shen Ching Tze Temple dan Miyuan untuk mengusut dan memahami, sampai di sini analisa kasus yang "tak terungkapkan" ini. Terhadap isi yang layak disampaikan ini, apakah para pembaca budiman sudah membedakan dengan jelas tingkat kredibilitas dan kebenaran dari tuduhan tersebut?

Di bawah ini adalah surat pengacara: