Selasa, 08 Januari 2013

Jangan menganggap aparat kepolisian itu bodoh – bagian SHC dan kantor kepolisian

Oleh : Meekie

Sebenarnya, semakin saya menulis semakin saya takjub, bagaimana mungkin ada sosok seperti ini, yang menuliskan artikel yang begitu banyak belangnya, bahkan masih mengharapkan orang lain akan bersimpati pada peristiwa omong kosong karangannya sendiri? Bahkan saking banyaknya absurditas pada artikelnya tersebut saya tidak tahu lagi mau mulai dari bagian mana dulu, anehnya artikel demikian masih saja dihebohkan dan didukung oleh sekumpulan netter berinisial kera, absurditas ini benar-benar boleh dimasukkan ke dalam Guinness record.

Hari ini kita akan berbincang-bicang mengenai rekaman catatan proses laporan ke kepolisian oleh SHC. Akan kita perhatikan bagaimana ratu pengarang cerita ini menggunakan segala trik tipu daya akan tetapi tetap saja tidak bisa menutupi segala kebohongannya.

Zhang Xiuxia (SHC) mengatakan, hukum di Amerika Serikat tidak berlaku adil kepadanya, kepolisian Amerika tidak menggubris gugatannya. Sebelum kita menyimak isi gugatan dan prosesnya, saya terlebih dahulu jelaskan : sebagian besar peraturan Undang-undang di negara barat yang maju ada ketentuan bahwa, antara legislatif, yudikatif, dan penegakan hukum, ketiga lembaga ini berdiri sendiri. Jika anda periksa istilah “pembagian tiga otoritas”, maka akan dapat dipahami lebih banyak lagi. Negara Amerika Serikat, merupakan negara dengan penerapan “pembagian tiga otoritas” yang paling konsisten dibandingkan negara-negara penganut sistem demokrasi lainnya, ruang lingkup paling menyeluruh, dan juga yang paling sukses. 

Jadi,
Pepesan kosong 1 : SHC berkata, kepolisian tidak menggubris kasusnya mungkin ada kaitannya dengan proses pemilihan gubernur di negara bagian Washington pada saat tersebut. Pertama-tama, kepolisian AS tidak mempunyai kekuasaan untuk mempengaruhi jalannya proses pemilihan gubernur disana, oleh karena kedua lembaga tersebut tidak mempunyai kaitannya sama sekali. Tolong jangan anda hubung-hubungkan sistem negara Asia yang korup ke AS. Kedua, sesuai kebiasaan di AS pemilihan umum dan pendaftaran bakal calon Gubernur, baru akan dimulai pada tahun pemilihan umum di awal bulan September. SHC mengajukan gugatan pada bulan Maret, pada masa itu belum ada suasana pemilihan umum sedikitpun, jika kepolisian takut menyinggung seseorang pun tidak tahu ditujukan kepada siapa! Saya berandai-andai, misalnya SHC berkata bahwa kepolisian mengabaikannya oleh karena tidak berani membuat Presiden AS Bill Clinton tersinggung mungkin saja bakal ada orang yang akan percaya, karena Bill Clinton dan Gedung Putih sendiri pernah menulis surat menghaturkan ucapan terima kasih kepada Mahaguru Lu, malah Perpustakaan Negara AS mengoleksi “buku Sheng-yen Lu” lengkap!

Amerika adalah negara demokratis, kekuatan media massa tidak dapat diremehkan disana. Apabila benar kepolisian mengabaikan anda, mengapakah tidak kau gugat saja kepolisian ke pengadilan? Mengapa tidak kau beberkan saja ke CNN ataupun wartawan ABC? Seandainya ada media massa dibelakang anda, bisa saja kepala kepolisian tersebut akan dijatuhkan dari jabatannya! Ini adalah berita yang begitu fenomenal, mengapakah tak kelihatan disini reaksi kamu terhadap “perlakuan tak adil” dari kepolisian, selaras dengan cara anda yang begitu habis-habisan tanpa ampun memfitnah Mahaguru Lu? Kamu yang bila sungguh melihat kepolisian kotor mengapakah masih takut dengan pengaruh otoritas, tidak digugatkan saja ke media massa? Jika kamu sungguh-sungguh mempunyai bukti, seharusnya kepala kepolisian pun harus turut serta digugat ke pengadilan, adakan konferesi pers seantero Amerika, ataukah disebabkan anda sama sekali tidak punya bukti yang kuat, maka pada sore hari tersebut anda pulang ke rumah dari kantor kepolisian dengan getirnya?

Pepesan kosong 2 : Mari kita simak lagi, SHC berkata kepolisian baru memberitahu dia diadakannya pertemuan  klarifikasi setelah Mahaguru Lu melarikan diri. Jujur saja, tanggal 14 Maret gugatan masuk ke kepolisian, oleh karena bukan berkenaan urusan nyawa manusia ada diujung tanduk, kepolisian yang mencarinya untuk klarifikasi pada tanggal 1 Mei, ini sudah tergolong normal adanya. Apa kamu tidak memberi waktu agar mereka menangani kasus yang lebih gawat? Mengenai perkataan SHC bahwa Mahaguru Lu pada tanggal 9 April mengumumkan pengunduran diri, ini terlebih-lebih lagi satu trik kebiasaan dia untuk  menyesatkan orang. Sia-sia saja dia postingkan artikel True Buddha News pada tahun itu di situsnya, malah semakin jelas membuktikan kebohongan dirinya sendiri. Ini adalah satu bagian artikel di halaman depan True Buddha News tanggal 13 April 2000 Acarya Lian Wang menyampaikan berita : “Pendiri Zhenfozong Y.A Dharmaraja Lian Sheng pada tanggal 9 April mengutarakan, Beliau memutuskan untuk pindah, kemungkinan akan berdiam di negara kepulauan Pasifik Selatan, menjalani hari tuaNya. Mahaguru tertawa riang, secara bercanda berkata : dengan senang hati mempersilakan semuanya datang, Beliau disana mungkin akan memiara babi.”

Mahaguru Lu pada tanggal 9 April di Seattle hanya mengatakan sepatah perkataan rencana di masa yang akan datang, tak disangka oleh sosok SHC yang labil tingkat akut ini terbacakan menjadi “tanggal 9 April mengumumkan pengunduran diri, melarikan diri.” Anehnya, saya mencari artikelnya sepanjang hari, tidak ada satu kali pun menyinggung Mahaguru Lu pada tanggal 27 Agustus, di Hongkong Convention & Exhibit Centre mentransmisikan untuk pertama kalinya “Sadhana Avenika Kalachakra”, itu adalah acara akbar yang dihadiri 70 ribu orang, tidak mungkin bukan mata kamu buta tak melihatnya! Ataukah ada melihatnya tapi sengaja tidak disinggung? Pada kenyataannya, Mahaguru Lu sesungguhnya setelah upacara Dharma bulan Agustus tersebut barulah pindah tinggal di Tahiti - Pasifik Selatan.

Jelas sekali, seandainya kamu ada menyinggung upacara Dharma bulan Agustus tersebut, maka akan membuktikan apa yang anda katakan pada tanggal 9 April tentang melarikan diri itu adalah dusta. Sedangkan kepolisian pada tanggal 22 Mei usai pertemuan klarifikasi memutuskan tidak melanjutkan proses gugatan, bukan karena tidak bisa menemukan Mahaguru, akan tetapi disebabkan kamu sama sekali tidak bisa membawa bukti apapun untuk membuktikan gugatan kamu! Apakah semua yang kamu katakan selamanya hanya untuk menistai Mahaguru saja? Anda hanya bisa pasrah melihat acara akbar yang agung ini, menyaksikan 70 ribu orang mengerumuni Mahaguru Lu di atas singgasana Dharma yang membumbung tinggi. Kepolisian pada bulan Mei oleh karena kurangnya bukti makanya menyudahi kasus kamu, sedangkan Mahaguru Lu di bulan Agustus masih sedang mentransmisikan Dharma, darimana tuduhan melarikan diri jauh-jauh tersebut? Mengapa kamu tidak melanjutkan gugatan? Bukti kamu mana?

Pepesan kosong 3 : Selanjutnya mari disimak isi gugatan SHC dan mengapakah kepolisian tidak melanjutkan gugatan! Sebenarnya semua ini membuktikan bukti bohong nan edan ini hanyalah bersumber dari situs pribadinya saja, benar-benar patut dihaturkan terimakasih kepadanya. Siapa tahu sebenarnya dia adalah penyusup di komplotan para pemfitnah, diam-diam menginformasikan kita jika apa yang dia tuliskan seluruhnya adalah fitnahan yang ujung pangkalnya tak berkaitan satu sama lain, terlebih lagi membuktikan, siapapun oknum yang mau mendapat porsi dengan memakai ceritanya sungguh dungu.

SHC pada catatan pertemuannya dengan kepolisian menyebutkan, perkara dakwaannya adalah dakwaan pemerkosaan tingkat satu, tingkat dua, tingkat tiga. Untuk itu, terlebih dahulu kita perlu mengetahui sesuai hukum perundangan yang berlaku di negara bagian Washington, dakwaan pemerkosaan tingkat satu, tingkat dua, tingkat  tiga ini bagaimanakah pengklasifikasian untuk memastikan apa tingkat kriminalitasnya ? Informasi publik seperti ini sangat gampang dicari di internet.

1.  Aksi kriminal pemerkosaan tingkat satu : adalah aksi yang paling biadab, mengharuskan bukti menunjukkan pelaku kriminal melakukan salah satu hal dibawah ini :
a. Menggunakan ataupun mengancam dengan senjata mematikan. (ataupun dengan alat yang menyerupai senjata mematikan)
b. Merampok, menculik korban
c. Badan jasmani korban dilukai parah, termasuk keadaan koma disebabkan luka di badan
d. Dengan cara aksi kriminal yang brutal memasuki kediaman korban ataupun kendaraan
e. Aksi kriminal tingkat satu adalah aksi kriminal berat kelas A

2. Aksi kriminal pemerkosaan tingkat dua : ketika situasi kejadian tidak cukup membuktikan kriminalitas pemerkosaan tingkat satu, diperlukan bukti menunjukkan pelaku kriminal melakukan aksi dibawah ini :
a. Menggunakan kekerasan
b. Ketika kontak seksual terjadi, badan jasmani korban tak berdaya, atau secara psikologis tidak mempunyai kemampuan sehingga tidak bisa mengijinkan hubungan seksual terjadi.
c. Ketika korban memiliki “cacat pertumbuhan”, sedangkan pelaku tidak memiliki ikatan pernikahan dengannya :
i. Korban adalah bawahan pelaku kriminal, pelaku mempunyai wewenang otoritas mengaturnya
ii. Semasa waktu bekerja, pelaku kriminal di kala menyediakan kemudahan transportasi menganiaya pihak korban.
d. Ketika pelaku kriminal dan korban adalah berstatus hubungan dokter dan pasien, dimasa pengobatan, konseling, diskusi, pemeriksaan terjadi hubungan seksual. Akan tetapi jika terdakwa dapat menunjukkan bukti superior untuk membuktikan pasien memahami sepenuhnya tujuan hubungan seksual tersebut adalah tidak berkaitan dengan pengobatan, maka boleh dipandang sebagai “pembelaan yang kuat”.
e. Ketika korban tinggal di tempat fasilitas khusus untuk penderita sakit jiwa, ataupun tempat fasilitas untuk orang yang bergantung kepada obat medis, sedangkan pelaku kriminal memiliki otoritas menjaga, merawat korban
f. Ketika korban adalah orang tua yang lemah ataupun orang dewasa yang rentan dianiaya, sedangkan pelaku kriminal tidak memiliki ikatan pernikahan :
i. Korban dan pelaku kriminal mempunyai hubungan dekat yang intens
ii. Pelaku kriminal di kala menyediakan kemudahan transportasi menyerang pihak korban.
g. Aksi kriminal tingkat dua adalah aksi kriminal berat kelas A

3. Aksi kriminal pemerkosaan tingkat tiga : ketika situasi kejadian tidak memenuhi aksi kriminal tingkat satu, dan tingkat dua, jika antara korban dan pelaku kriminal tidak memiliki ikatan pernikahan :
a. Korban tidak mengijinkan hubungan seksual, serta adanya ucapan jelas ataupun sikap fisik untuk mengisyaratkan tidak mengijinkan.
b. Korban mendapat ancaman serius dan yang bertentangan dengan hukum atas harta benda dan hak kepemilikannya
c. Aksi kriminal tingkat tiga adalah aksi kriminal kelas C

Satu hal yang perlu dinyatakan disini, saya bukan pengacara, dan inipun bukan satu penterjemahan yang profesional, pemaparannya disini bertujuan agar menjadi bahan pemikiran kita semua. Untuk yang berniat membaca teks asli bahasa hukum tersebut silahkan langsung ke alamat situs badan legislatif negara bagian Washington dibawah ini, bagi yang ingin lebih memperinci penjelasan bahasa hukum tersebut beserta ruang lingkup penerapannya, silahkan anda bincang-bincang dengan seorang pengacara.


Sebenarnya, kepolisian/jaksa penuntut umum berdasarkan aturan UU negara bagian Washington, laporan dakwaan SHC tersebut, tidak memiliki bukti yang cukup untuk membuktikan salah satu daripada tiga tingkat aksi kriminal pemerkosaan diatas. Sedangkan pengacara SHC usai pertemuan klarifikasi dengan pihak kepolisian menuliskan sebuah memo yang sudah jelas menerangkan hal tersebut. Sementara si SHC sampai sekarang dengan ekspresi mengiba masih terus mengatakan kepolisian mengabaikan kasusnya, hukum tidak berlaku adil. Mohon tanya, ketika kepolisian telah memberikan keterangan bahwa bukti dakwaan tidak cukup untuk diteruskan ke proses peradilan, maka kamu mau kepolisian bagaimana lagi baru kamu merasa dihargai aparat kepolisian? Kamu mempertanyakan mengapa pada awalnya aparat kepolisian mengatakan ini adalah kasus yang bagus, tetapi kemudian tidak melanjutkan proses peradilan, itu karena kepolisian, dan hukum itu berbicara mengenai bukti, bukannya hanya karena seseorang berkata ini adalah kasus yang bagus lantas mencerminkan bukti dakwaan itu valid. Andaikan kamu bisa membawakan bukti yang cukup dan kepolisian tidak meneruskan proses dakwaan, kamu masih punya hak menuntut Mahaguru Lu bersama-sama kepolisian ke Mahkamah Agung, benar bukan?

Dengan membaca secara seksama UU tersebut kemudian kembali membaca artikel fitnahan tulisan SHC, bahkan walaupun dikemas dengan penulisan yang apik dan menggugah hati, sedikitpun tidak ada satu daripadanya dapat memenuhi ketentuan UU mengenai suatu aksi kriminal pemerkosaan. Kamu yang tidak mampu membuktikan bukti kekerasan, juga tidak mampu membuktikan dengan Mahaguru memiliki bentuk hubungan yang intens, butir-butir ketentuan peraturan UU sudah begitu jelas, kamu malahan berkata hukum tidak berlaku adil, apakah maksud kamu biar lembaga peradilan negara bagian Washington, lembaga penegakan hukum diubah saja untuk hanya khusus melayani diri kamu seorang saja, sehingga disaat kamu mau mengajukan tuntutan, maka pihak terlapor maka pasti akan didakwa bersalah?

Kepolisian di tanggal 1 Mei, dan tanggal 22 Mei secara terpisah telah menggelar pertemuan klarifikasi atas kasus anda, bagaimana mungkin kepolisian tidak serius? Apalagi, pengacara kamu usai pertemuan itu ada komentar seperti berikut : “While acknowledging that the within matter was brought to the attention of Mr. O’Toole’s superiors for review due to the high profile nature of the accused, he denied that the resulting decision was in any way influenced by same.”
Dengan kata lain, Mahaguru Lu yang kamu dakwakan adalah seorang figur ternama di negara bagian Washington, walaupun kasus ini mengundang perhatian khusus dari pejabat tinggi kepolisian, akan tetapi antara nama besar Mahaguru Lu dan pengambilan keputusan penuntutan dari kepolisian tidak ada korelasinya sedikitpun. Yang bearti kita semua mempunyai bukti yang sangat valid untuk menjelaskan, bahwasanya kepolisian tidaklah korup. Mohon tanya bagaimana kiranya kamu mau kepolisian menghargai kamu? Apa dengan menggantungkan potret kamu di atas pintu masuk kantor kepolisian, lalu seluruh aparat kepolisian yang keluar masuk harus menghormat membungkukkan badan tiga kali?  

Sedangkan alasan yang kamu berikan pada artikelmu malah mengatakan, “pejabat tinggi aparat kepolisian berkata Sheng-yen Lu adalah seorang figur ternama, mereka kuatir diusik media massa.” Pihak kepolisian sudah jelas menerangkan pengambilan keputusan penuntutan dari kepolisian tidak ada korelasinya sedikitpun dengan nama besar bersangkutan, jika pernyataan dari pihak kepolisian pun berani anda fitnah dan diskreditkan, maka di dunia ini apa lagi perkataan yang tidak berani kamu ucapkan? Kamu sama saja dengan memfitnah adanya korupsi di internal kepolisian, tidak mematuhi hukum, tidak tahu apakah seandainya artikel kamu ini diserahkan ke pihak kepolisian negara bagian Washington, mereka akan menuntut fitnahan kamu ini atau tidak?

Kamu berkata lagi, gugatan tidak lagi dilanjutkan sesudah penolakan pihak kepolisian oleh karena tidak punya uang lagi membayar pengacara. Tetapi pada tanggal 6 Desember kamu memotong jalur kepolisian lalu pergi sendiri menggugat Mahaguru Lu di pengadilan itu bagaimana ceritanya? Darimana uang itu berasal? Kamu tidak mempunyai keahlian khusus, penguasaan bahasa inggris tidak bagus, jangan katakan pada saya kamu bekerja part time sendiri untuk membiayai ongkos pengacara yang selangit itu, sungguh konyol jika demikian! Jika benar demikian maka kamu perlu mempublikasikan bukti penghasilan gaji kamu beserta slip tagihan dari kantor pengacara baru saya akan percaya. Untuk itu, soal uang bukanlah masalah, tidak adanya bukti untuk tuntutan barulah masalah utama. Di negara Amerika Serikat dimana aksi saling gugat-menggugat sudah menjadi kebiasaan disana, seandainya kamu mempunyai bukti manakah mungkin kamu akan kalah dalam gugatan?

Satu lagi di bagian akhir, pada umumnya andaikata terjadi peristiwa pelecehan seksual merupakan kejadian yang sangat memedihkan hati, pihak korban asalkan memiliki kemampuan sudah seharusnya segera melaporkan ke kepolisian. Dan juga pergi memeriksa ke rumah sakit mendapatkan hasil visum, seperti cairan mani pelaku kriminal beserta bekas pemukulan dan lain-lain, oleh sebab ini semua adalah bukti yang paling penting untuk membuat dakwaan. Sebaliknya kamu sangat mantap, bulan Juli 1999 angkat kaki, hidup santai bebas merdeka sepanjang 7-8 bulan, hingga pada bulan Maret 2000 baru teringatkan lapor ke kepolisian. Andaikata kamu benar-benar seorang korban teraniaya, saya sungguh tidak tahu kamu ini termasuk kategori apa! Apakah kamu pergunakan waktu selama 7-8 bulan itu baru bisa mengolah diri kamu sendiri menjadi seorang korban teraniaya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.