Senin, 24 Desember 2012

Pesan Bhiksu Liaoming

Buku Karya Dharmaraja Liansheng ke-141 -- The Southern Pacific Longing


Bhiksu Liaoming adalah guru pertama saya belajar Buddhadharma, setelah saya usai belajar Buddhadharma dan saat bersiap-siap turun gunung membabarkan Buddhadharma, Beliau khusus berpesan pada saya, kata-kata yang sangat penting, Beliau berkata:

"Mengingat kesinambungan nadi Dharma pembabaran Dharma, jauhilah polutan massa, juga supaya diri sendiri tidak terluka. Poin pertama, Anda harus menjauhi uang dan materi yang ekstrim sensitif, pembabaran Dharma Anda, dalam hal dana, hanya ada 1 kata, yaitu sukarela."

Begitu saya dengar, timbul kewaspadaan dalam hati, pesan ini selamanya terpatri dalam benak saya, bertahun-tahun sudah berlalu, segalanya sukarela, di dunia yang kejam yang penuh dengan 5 kekeruhan duniawi ini, terang selamanya.

Saya patuhi kata-kata Bhiksu Liaoming, dan menaati beberapa poin berikut ini:

1. Pembabaran Dharma sukarela semua.
2. Tidak pernah meminta uang pada orang lain.
3. Saya tidak mencampuri seluruh keuangan dan administrasi setiap Vihara Vajragarbha, Vihara, dan Cetiya.
4. Sepenuhnya tidak menyentuh uang yang ekstrim sensitif.
5. Menulis artikel mengimbau, "Mohon Tidak Memberikan Persembahan pada Mahaguru." Artikel ini dimuat di True Buddha News bertahun-tahun yang lalu. Saya sepenuhnya hanya seorang sadhaka yang membabarkan Dharma saja.

Bhiksu Liaoming selanjutnya berpesan pada saya:

"Anda turun gunung membabarkan Dharma dan menyeberangkan insan, pikiran insan adalah pusaran air dan jeram yang tidak pernah berhenti berputar, massa itu tidak nyata dan aneh, hati setiap manusia itu menakutkan dan berubah-ubah. Supaya Anda tetap bisa menginjakkan kaki di bumi ini, demi ketenteraman dan ketenangan dalam membabarkan Dharma, Anda sendiri harus siap mental, Anda mesti berhati-hati menanggapi rintangan seks, seks memang terlihat seperti nyata dan hidup, sangat menggoda, seorang sadhaka yang melatih diri, jika tidak waspada sama sekali, pasti rapuh dan ambruk!"

Pesan Bhiksu Liaoming ini sangat mengejutkan saya, saya mesti mengakui dalam hal ini saya tidak mengerti cara menanganinya. Sebelum saya menjadi bhiksu, saya membentangkan layar demi layar tarian impian cinta yang menarik, hidup saya mengandung ciri khas asmara yang kental, menikmati tabiat dan kegemaran yang unik dan memabukkan.

Pada masa silam, saya mempunyai impian yang luar biasa dan hidup, di masa yang akan datang, bukankah lebih lincah, lebih segar, kuasa dari kekuatan cinta, hampir menjadi kelemahan diri saya.

Namun, setiap kali saya berbaring, memejamkan mata, hal pertama yang saya pikirkan, adalah pesan dari Bhiksu Liaoming, guru tidak pernah bosan-bosannya memperingatkan saya, harus tanggapi dengan hati-hati, berjaga-jaga di masa yang akan datang.

Seperti diduga, banyak umat wanita menulis surat berbau cinta untuk saya.

Gerak-gerik dari banyak umat wanita, di tengah pemujaan dan fantasi, kentara sekali menunjukkan kesadaran lapisan dalamnya.

Bahkan ada nenek berumur 70 tahun, kerap kali menulis memo dan surat.

Saya sebagai pembabar Dharma, ditonjolkan selapis demi selapis oleh ciri khas asmara yang langka di dunia yang realistis ini.

Saya akhirnya mengerti peringatan dari pesan Bhiksu Liaoming, saya tanggapi dengan hati-hati, bahkan dalam mimpi pun tidak mengendur.

1. Saya hati-hati dalam berbicara maupun bertindak. (menulis surat, bicara di telepon)
2. Gerak-gerik khidmat.
3. Semua surat umat wanita diarsip. (untuk antisipasi digigit balik saat cinta tak berbalas)
4. Menulis surat melatih diri atas kemauan sendiri. Selembar dibakar, selembar diarsip. (Sama-sama untuk antisipasi digigit balik)
5. Umat wanita yang sengaja mendekati, diamati lama-lama, ditanggapi dengan hati-hati.

Waktu berlalu, saya sudah berumur 56 tahun, dalam hidup ini, muncul beberapa kali krisis. Saya sangat berterima kasih atas pesan Bhiksu Liaoming, Beliau terus memperingatkan saya, fakta bahwa hati manusia tiba-tiba berubah dan sulit diduga, jangan merugikan siapapun, waspadalah pada siapapun.

Hari ini, saya mau memperingatkan para umat pembabar Dharma:

"Jauhilah uang dan asmara duniawi dengan hati teduh."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.